Sunday, December 21, 2008

Solo, benteng Vastenberg

Benteng Vastenberg, mungkin banyak warga Solo khususnya para pemudanya kurang mengenalnya. Benteng ini bradadi pusat kota tepatnya di depan kantor pos pusat. Tempatnya yang tertutup seng membuatnya tersembunyi. Benteng ini terakhir dibuka untuk umum ketika SIEM 2007. Saat itulah warga Solo banyak yang melihatnya.

Ada berita yang cukup mengejutkan tentang benteng itu. Benteng itu akan di bangun hotel berbintang 5! bagaimana bisa? Karena ternyata lahan benteng tersebut sudah berpindah tangan ke pihak swasta beberapa tahun yang lalu. Sayang sekali sebuah cagar budaya yang dimiliki Solo akan segera hilang. Lahan yang seharusnya menjadi warisan budaya yang dapat dijadikan obyek wisata akan didirikan hotel yang menjulang tinggi. Tentunya dengan design yang modern. Pembangunan Hotel Boutique di area benteng banyak mendapat kecaman dari masyarakat.

Karena masih termasuk cagar budaya, proses pembangunan hotel pun perlu dipertanyakan. Akankah hotel tersebut menghancurkan benteng? Saya sebagai warga Solo tentunya tidak setuju dengan pembangunan tersebut. Yang saya lihat dari Solo sekarang ini, sudah banyak mall dan hotel yang menjulang tinggi. Bangunan-banguna modern yang muncul hendaknya tidak merusak cagar budaya. Saya merindukan Solo yang sejuk, di mana masih banyak pepohonan yang sekarang mulai hilang.

Saya merindukan Solo yang nyaman, dimana belum banyak gedung-gedung menjulang tinggi, belum banyak kendaraan bermotor yang memadati jalan. Apakah Anda merindukan Solo seperti saya? Mari warga Solo, gotong royong mencegah hilangnya cagar budaya dari Solo kita tercinta.^^

Wednesday, November 19, 2008

Solo, warganya ramah-ramah

Solo banyak diketahui masyarakat luas bahwa warganya ramah-ramah. Disebut pula, warganya lemah lembut. Identik dengan sesuatu yang halus tersebut tentu saja tak lepas dari peran keraton yang memiliki tradisi mengapdi. Di mana strata atau tingkat golongan menjadi sesuatu yang penting. Setiap golongan harus menghormati golongan yang lebih tinggi yaitu dengan cara bertutur kata halus, bertindak sopan, dan tradisi lainnya. Tradisi-tradisi tersebut tentunya masih dipelihara oleh masyarakat.Akan tetapi beberapa diantaranya sudah mulai memudar karena pengaruh budaya lain yang masuk di lingkungan sekitar dengan didukung kemajuan teknologi dimana mempermudah budaya asing mempengaruhi budaya asli warga.

Globalisasi yang terjadi sangat berpengaruh pada budaya. Pasar global dalam bidang apapun pasti membawa sedikit budayanya. Akses yang mudah dan cepat dan bila masyarakat kurang tanggap dalam memilah budaya tentunya dapat mempercepat proses asimilasi(terbentuknya kebudayaan baru, disertai dengan hilangnya kebudayaan asli). Sekarang kita dapat melihat di lingkungan masyarakat Solo, banyak kebudayaan baru yang muncul. Yang mengkhawatirkan adalah masuknya kebudayaan bangsa barat yang sebagian tidak sesuai dengan adat ketimuran kita.^^

Solo, terbuka untuk berbagai budaya

Walaupun bukan kota besar, di Solo kita dapat menemukan berbagai macam budaya. Budaya tersebut dipengaruhi oleh warga pendatang yang membawa serta kebudayaannya(berupa perilaku) yang tentu saja mempengaruhi lingkungan di sekitarnya.

Di Solo, kebudayaan asing yang masuk diterima dengan tangan terbuka, asalkan kebudayaan tersebut sesuai dengan norma dan adat yang berlaku di Solo. Masuknya keanekaragaman budaya sesungguhnya dapat memicu terjadinya gegar budaya dimana perbedaan budaya masyarakat tertentu tidak dapat diterima oleh kelompok masyarakat lainnya. Yang harus diwaspadai oleh masyarakat yaitu terjadinya konflik budaya. Hal ini dipengaruhi oleh etnosentrisme yang msih melekat pada sebagian suku, yaitu dimana suku tersebut memiliki prasangka buruk/ memandang rendah suku atau ras tertentu. Perlu dilakukan lintas komunikasi budaya, Bahasa Indonesia tentunya mempermudah hal tersebut.

Adaptasi dan toleransi masyarakat perlu dijaga, agar keanekaragaman budaya yang terjadi menjadi sesuatu yang indah, dan bukan menjadi pemicu perpecahan bangsa. Sebagai generasi muda kita dituntut untuk berfikir lebih cerdas dalam menanggapi perbedaaan budaya yang terjadi disekitar. Filterisasi atau penyaringan dapat dilakukan oleh masing-masing pribadi untuk memilah-milah budaya apa saja yang sesuai dengan lingkungan dengan tetap mengindahkan norma-norma yang berlaku dimasyarakat dan menjunjung tinggi persatuan bangsa.^^

Saturday, November 15, 2008

Solo, 1 contoh akulturasi budaya



Akulturasi budaya adalah percampuran budaya yang berbeda tanpa meninggalkan budaya asli. Budaya gunungan identik dengan budaya Jawa. Namun pada perayaan Imlek tahun ini(Februari 2008), masyarakat keturunan Tiong Hoa merayakannya dengan gunungan. Gunungannya pun terbuat dari kue Keranjang (kue hasil karya masyarakat Tiong Hoa di indonesia).

Perpaduan dua budaya tersebut merupakan akulturasi yang nyata terlihat di kota Solo. Karena gunungan dihadirkan pada perayaan Imlek yang sarat akan tradisi Cina dengan aneka hiburan seperti Barongsay dan Liong, dan juga hiasan lampion yang menghiasi Pasar Gedhe dimana puncak acara berlangsung.

Hal ini tentu saja menjadi contoh bersatunya masyarakat Solo tanpa mengenal ras. Sikap Gotong royong dan toleransi juga dapat dirasakan ketika perayaan tersebut. Karena yang berebut gunungan bukan hanya masyarakat keturunan Tiong Hoa, tetapi juga warga pribumi lainnya, sehingga masyarakat berbaur menjadi satu merayakan Imlek bersama.^^

(foto dan berita dari kompas.com)

Solo, beberapa upacara adatnya

Kirab 1 Suro

Pada malam pergantian tahun (kalender Hijriyah), di Puro Mangkunegaran dilakukan kirab pusaka yang dimulai pukul 19.00 WIB. Sedangkan dari keraton kasunanan Surakarta juga dilakukan kirab, namun kirab tersebut dimulai pukul 24.00 WIB. Kirab juga di ikuti oleh kebo bule yang disebut Kyai Slamet. Kirab tersebut banyak disaksikan oleh warga Solo maupun wisatawan. Berbagai mitos berkembang di masyarakat mengenai kirab ini. Banyak warga rela berebut kotoran dari kebo dan membawanya pulang karena dipercaya dapat mendatangkan berkah. Oleh karena itu kebo bule dinanti masyarakat sejak malam menjelang.


Syawalan


Sehari setelah Idul Fitri dilakukan proses pembagian ketupat di sungai Bengawan Solo. Dengan berpakaian adat Solo lengkap, mereka membagikan ketupat. Karena dipercaya dapat mendatangkan rejeki, masyarakat berebut ketupat tersebut.




Sekaten


Upacara adat ini dilakukan untuk memperingati Maulid (hari lahir) Nabi Muhammad. Puncak acara yaitu keluarnya sepasang gunungan dari masjid agung yang telah didoakan oleh ulama keraton. Masyarakat sangat antusias menunggu gunungan untuk berebut gunungan tersebut yang lagi-lagi dipercaya dapat mendatangkan kebahagiaan.^^

(foto dari wisatasolo.com)

Solo, dan batiknya


Batik pada masa lampau menjadi pakaian para Raja yang mencerminkan status sosialnya. Karena beberapa batik dibuat diluar lingkup keraton, batik mulai ditiru masyarakat. Solo yang juga terkenal dengan batiknya, memiliki 2 tempat pusat produksi batik yaitu kampung batik Laweyan dan Kauman. Mayoritas penduduk di kampung tersebut menggantungkan hidupnya dari batik. Sekarang kampung tersebut diperindah dan menjadi tempat wisata belanja tujuan para turis. Batik yang disediakan pun beraneka ragam dan corak. Batik yang paling berkualitas tentunya batik tulis, yang harganya relatif mahal. Namun hal tersebut wajar mengingat proses produksinya yang memakan waktu lama dan ketelitian yang tinggi.

Batik beberapa tahun belakangan ini berkembang pesat. Batik yang dulu identik dengan kesan tua formal sekarang malah menjadi tren atau gaya dimana para remaja tidak sungkan memakainya dalam kegiatan sehari-hari. Tentunya batik tersebut disesuaikan dengan perkembangan mode dan gaya masyarakat saat ini. Batik cap yang diproduksi secara massal dengan harga yang murah mendukung berkembangnya pemakaian batik di masyarakat kota Solo.

Diharapkan generasi muda juga mengetahui sedikit tentang batik, tentang nama coraknya maupunbagaimana pembuatannya. Menjamurnya batik di masyarakat semoga bukan hanya sesaat. Tetapi sampai masa depan, sebagai wujud pelestarian budaya Solo di saat fashion luar negeri mulai mempengaruhi fashion masyarakat Solo.

Saat ini di kampung batik laweyan sedang berbenah. Yaitu menjadikan rumah-rumah kuno yang masih memiliki bunker sebagai museum. Setidaknya ada lebih dari 10 rumah yang sedang diperbaiki. Hal ini mendapat tanggapan yang positif dari warga. Warga berharap dengan adanya museum-museum tersebut dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung dan berbelanja di kampung batik Laweyan.^^

(foto dari wisatasolo.com)

Solo, kota budaya



Solo kota budaya, dimana kita bisa melihat adanya 2 peninggalan pemerintahan yang masih dipertahankan keberadaannya. Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Masih pula dipimpin oleh raja. Masyarakat Solo masih menaruh hormat pada para keluarga keraton berdarah biru tersebut.

Bangunan ke dua keraton masih dipertahankan meskipun telah dilakukan berbagai perbaikan. Di dalamnya pun terdapat berbagai benda bersejarah yang disimpan rapi, beberapa diantaranya boleh Anda lihat ketika Anda berkunjung. Walaupun telah menjadi tempat wisata, keraton masih dihuni oleh para keturunan para raja beserta para pengapdinya.

Di saat Solo berkembang menjadi kota dengan berbagai gedung tinggi yang modern, keraton menjadi cagar budaya yang patut dilestarikan. Yang menjadi saksi bisu perkembangan kota. Sesuatu yang seharusnya menjadi kebanggaan warganya, sehingga warga tidak membanggakan banyaknya mall, hotel, maupun apartemen tinggi yang modern.

Yang menjadi kekhawatiran saya saat ini adalah adanya rencana dibangunnya hotel berbintang di kawasan benteng Vasten burg. Menurut saya sebuah cagar budaya hendaknya dilestarikan sesuai dengan wujud aslinya, yang dipelihara oleh pemerintah. Dengan letaknya yang berada di jantung kota Solo, benteng tersebut dapat menjadi objek pariwisata yang menarik wisatawan khususnya wisatawan asing. Namun sayangnya sampai saat ini benteng tersebut kurang mendapat perhatian dari pemerintah kota. Sehingga banyak masyarakat yang kurang mengetahui tentang keberadaan benteng tersebut.

Dengan perkembangan teknologi dan modernisasi yang terjadi di Solo, banyak generasi muda yang kurang mengetahui atau bahkan tidak ingin melestarikan cagar budaya di kawasan Solo. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman budaya yang ditanamkan pada generasi muda. Sosialisasi cagar budaya perlu dilakukan di masa kanak-kanak hingga remaja. Sehingga dapat dilakukan pengenalan budaya Solo sejak dini. Agar kelak mereka dapat ikut melestarikannya.^^

(foto dari wisatasolo.com)

Solo, sedikit pengantar

Solo,apa yang Anda ketahui tentang kota itu?
Solo terkenal dengan wisata kulinernya, seperti yang sering diberitakan di televisi. Itu memang benar. Di Solo Anda bisa mencicipi makanan yang tersedia 24 jam.
Bukan di restoran waralaba siap saji tentunya, tapi penjual nasi sayur dengan berbagai menu pilihan. Tapi di sini saya tidak akan membicarakan tentang itu. Saya hanya sedikit berbagi tentang budaya-budaya di Solo yang perlu Anda ketahui.^^

Followers